Puasa Dimulai, Yakin Kita Siap ?

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

“Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung ”. (HR Bukhari dalam Shahihnya: 7/226 dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

Dari ayat dan hadits diatas terlihat dengan jelas bahwa adanya kaitan antara puasa dengan keimanan seseorang serta keistimewaan ibadah puasa itu sendiri. Allah SWT memerintahkan puasa kepada orang-orang yang beriman dan puasa itu untuk Allah SWT, dengan demikian Allah Ta’ala pun hanya menerima puasa dari jiwa orang orang beriman. Dan puasa juga merupakan tanda kesempurnaan keimanan seseorang.

Ibadah Batiniyah

Pengertian “sebab ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran pada-Nya secara langsung ”, adalah puasa merupakan amalan batiniyah yang pada hakikatnya tidak diketahui kecuali Allah SWT, dan orang yang melakukannya sendiri, karena puasa adalah ibadah yang berbentuk niat dalam hati, berbeda dengan semua amalan lainnya, yang bisa dilihat dan nampak oleh mata orang lain. Adapun puasa, maka ia lebih pada amalan yang bersifat rahasia antara hamba dan Tuhannya, sesuatu yang sangat intim kepada sang maha pencipta.

Meninggalkan hawa nafsu, dan makan minum semata-mata karena Allah SWT, merupakan amalan batiniyah, dengan niat yang tersembunyi, dan tidak diketahui kecuali oleh Allah SWT. Sangat berbeda dengan sedekah, shalat, haji, dan amalan-amalan lahir lainnya, yang mana amalan-amalan ini bisa dilihat oleh orang lain, sementara puasa tidak bisa dilihat oleh seorangpun karena pada hakikatnya puasa tidaklah sebatas meninggalkan makan dan minum atau semua jenis pembatal puasa, namun lebih dari itu ialah harus benar-benar ikhlas dan sungguh-sungguh, dan ini tentunya tidak bisa diketahui kecuali Allah SWT.

Yakin Kita Siap ?

Puasa adalah ibadah kesabaran, bersabar dan tetap teguh dalam meninggalkan hawa nafsu, dan makan minum semata-mata karena Allah SWT membutuhkan keteguhan dan ketetapan niat yang sangat kuat. Tidak hanya saat ingin tidur atau setelah sahur, tapi niat ini harus tetap besar dari awal ramadhan sampai hari kemenangan tiba. Memang dibutuhkan daya dan upaya yang sangat besar untuk bisa bertahan sampai hari kemenangan, namun ganjarannya sangat indah. Karena sekali lagi, ibadah puasa ini hanya untuk Allah SWT dan Allah sendirilah yang akan memberikan ganjarannya secara langsung.

Meneguhkan niat bukan perkara mudah, butuh latihan yang sangat keras untuk bisa tetap teguh melawan hawa nafsu, menahan makan dan minum selama bulan ramadhan. Karena itu, bulan ramadhan ini juga merupakan sarana kita untuk berlatih untuk semakin bersabar dan mengaplikasikannya dengan cara melawan hawa nafsu kita dan dapat mengendalikannya. Tidak hanya selama bulan ramadhan, tapi juga setelahnya. (Wallahu a’lam)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *